Wednesday, November 23, 2011

Wonderful Joy

Halo duniaaa :) :) :) I’ve been smiled for many times this week. This is fact, I swear.. My life is full of joy right now. A wonderful joy. Kemaren Minggu, aku ikut rekoleksi di rumahnya Guru Agamaku, Pak Gik. Jadi ceritanya itu acara sekolah salah satu bagian acara di Persekutuan Doa kami. Rrr.. sempet males juga waktu mau kesana. Akhirnya dengan segala perjuangan melawan kemalasan itu aku berangkat kesana. Intinya, so many things I've learned there.. and so many things that I should share to you, His love and His glory. Jadi aku harap kalian mau baca entri yang panjang ini karena aku pengen kalian juga ngerasain besar cintaNya kepada kalian.

*** 
Rekoleksinya tentang Pujian dan Penyembahan kayanya –aku nggak begitu inget, mungkin aku lagi ngmong sendiri atau apalah pokonya nggak denger. Pembicaranya Pak siapa ya.. aku juga lupa namanya #hakdeesh. Sebelumnya tahun lalu aku uda pernah ikut rekoleksi yang temanya hampir sama kaya gini dan kesannya biasa aja.. nothing changed in my life. Stuck. Monoton. Season pertama, aku kagum sama tu pembicara yang aku nggak tau namanya. Dulu dia seorang berdosa, kotor, suka judi, and stuff. Dia kesaksian bahwa dia dulu rusak serusak-rusaknya orang. Tapi saat Tuhan menjamahnya, dia ngerasa bahwa Tuhan nggak pernah memandang dia hina. Saat dia ngelakuin hal-hal yang nggak sesuai kehendaknya Tuhan tu cuma nangis. Tuhan nggak pernah lupa sama satu pun hamba-Nya. Dan saat itu juga pembicara itu bertobat dan dikaruniai berkat luar biasa hingga sekarang bisa pelayanan dimana-mana dan berbicara di depan kami saat itu.

Waktu itu aku mikir. Apa kalo mau hidupnya bermakna, hidupnya penuh sukacita, penuh pelayanan, dan dipandang Tuhan harus berdosa dulu terus bertobat? Hidupku biasa-biasa aja, aku nggak pernah judi, aku nggak pernah main dukun dsb, (bukan berarti aku nggak berdosa -___-) tapi aku belum ngerti dan belum percaya bahwa Tuhan itu mengasihi aku.

Aku dateng ke rekoleksi itu bawa banyak beban. Mulai dari ngerasa orang tua ku yang jarang perhatian sama aku. Sakit hati, rasanya direndahin, penatnya kelas 9.. “Oh please, God!” Aku selalu bilang gitu, berharap Tuhan mengubah drastis hidupku. Mungkin dengan ngembaliin hidupku ke 10tahun yang lalu, dimana aku masih di bangku TK. But I realize it will never happen. Aaaaah >< Kembali ke dunia nyata.. Hmm, season selanjutnya, saat hening. Pembicara nyuruh kita nutup mata dan bicara sama hati kita masing-masing. Aku benci otakku waktu itu. “Apa Tuhan sayang aku? Apa orang tua ku sayang aku? Gimana masa depanku besok? Gimana rentetan masalah-masalah, kekhawatiranku bisa selesai?” Hal-hal itu tu terus melayang-layang di dalam hati ku #wkwk. Serius. Tesss. Nggak tau, mataku ternyata uda berlinangan air mata. Ngerasa nggak di anggep sama Tuhan. Nginget tadi si pembicara bilang bahwa Tuhan selalu ada disampingnya.. Tesss. But, neither to me. Tuhan seakan ninggalin aku, nggak pernah nganggep aku. Dia nggak pernah dtg ke aku dengan segala kasih, berkat, karunia, sukacita, dan rentetan kebaikannya. Tapi waktu pembicara bimbing kami buat bicara lebih dalam ke dasar hati kami, I continue to seek Him more and more.. Nggak bohong, jelas hatiku bilang bahwa aku nggak pernah sadar bahwa Tuhan tu ‘memang’ nggak pernah ninggalin aku. Dia tu sayaaaang banget sama aku melebihi apapun, mungkin melebihi orang tua yang sekarang masih buat aku tekanan batin dan aku kecewa. Bahkan aku juga nguubah pemikiran itu. Dua orang tuaku. Orang tua yang aku anggep cuma dua orang yang ngebesarin aku sampe sekarang. Ternyata lebiiiiiiiiiiiih dari yang aku kira. Mereka rela berkorban demi aku. Mereka hidup demi aku. Dan apa? Aku bisanya cuman mikir negative tentang mereka. Tuhan bicara saat itu juga, bahwa orang tuaku sekarang adalah orang tua yang terbaik buat aku. Se-cerewet, se-kolot, se-over-protected apapun mereka, aku percaya mereka sayaaaang sama aku, same as Jesus do. Sampai detik itu, aku masih bisa menghirup udara segar, bisa ngerasain jantungku berdetak. Itu hal kecil yang dari dulu nggak pernah aku syukurin. Aku diem. Aku mikir lagi. Banyaaaaaaaak hal yang belum aku syukuri. I had my friends, school, clothes, anything I want.. and my parents. WOW. Satu kata yang nggak bisa didefinisikan. Kasih Tuhan luar biasa.. and foolish me nggak pernah bersyukur.

          Kita terusin pelajaran, sharing, makan minum, dan akhirnya sampe ke penghujung acara. Pencurahan Roh. Sampe sekarang itu hal yang paling transenden di hidupku. Dulu di Malang aku uda pernah, dan.. terrible. Itu mengerikan. Ngeliat orang jatuh nggledak teriak-teriak dan bicara bahasa yang manusia nggak bisa ngerti, yang biasa disebut bahasa roh, bukan setan, tapi roh kudus. Dan waktu di Malang itulah berawalnya rasa kecewaku #halah. Heloo! Aku nggak ngalami itu semuaaa! Tapi kemarin Minggu benar-benar Tuhan menjawab semua keraguan, kekecewaanku. Pembicara itu ngomong didepanku sambil megang dan ngangkat tanganku. Kata-katanya yang terakhir itu bahasa roh. Spontan, badanku kaya kesetrum dari ujung kaki sampe ujung rambut.. bzzzzzzzzzzz saat itu juga aku nggak bisa ngontrol badanku. Karena pencurahannya individual, beberapa temenku yang belom ‘nggledak’ liat aku waktu dicurahi roh. Katanya aku nggledak sambil teriak. Aku sadar kok waktu aku jatuh, aku sadar waktu aku teriak, aku sadar waktu aku tepar di bawah, tanganku di dada dan nangis nggak berhenti-berhenti. Apa yang aku tangisin? His love, his glory in my life. Betapa kecilnya aku dihadapanNya. Mahkluk kecil kemaki yang kadang egois dan banyak dosa tetap dicintai oleh Dia yang empunya segala-galanya. Rasanya tu kaya mantan/orang yang nggak kamu anggep tapi dia tetep mencintai kita. Rasanya terharu gimana gitu smriwing. Wkwk. Aaa embuh.
I still crying. Aku denger suara musik lembut. Yang ada di pikiranku waktu itu cuma besar kasihnya, keluarbiasaan kasih dan cintanya, dan semua berkat, karunia anugerah yang udah Dia berikan ke aku. Aku kehabisan kata-kata buat memuji dan mengagungkan Dia. Tiba-tiba mulutku gerak nggak tau ngomong apa. Dan aku baru sadar kalo itu bahasa roh. Bahasa roh bukan lagi ucapan yang kamu udah pikirin sebelumnya, bahasa roh ini kata-kata, pujian untuk Dia yang diatas, saat kamu udah kehabisan kata-kata, nggak tau harus memuji apa lagi karena Dialah yang terbesar. Nah, waktu bahasa roh itu keluar dari mulutku, sukacita luaaaaaarrrrrr biasa datang dalam hidupku, Bung! Bukan lagi sekedar bahagia, senang.. tapi sukacita. He really make me realize that He is real, He really loves us, and He bring His joy to us. Hhhhh.. spending time with Him is something that I adore so much :))

***

         Well, I’ve feel the wonderful joy from Him and I’ve been share to you.  Sempetin waktumu di keheningan. Coba bicara sama hatimu. Dia, Allahmu selalu menunggu kalian datang padaNya. Dia akan sangat senang saat kalian berbalik padaNya dan meminta sukacita itu. Trully it is a blessing for me to be there.

No comments:

Post a Comment